Kamis, 06 Oktober 2016

Kontroversi Gay Di Indonesia

       Artikel ini pada awalnya saya buat sebagai tugas salah satu mata kuliah di prodi ilmu komunikasi. setelah menimbang beberapa hal dan mengetahui bahwa artikel yang saya kerjakan masuk ke kategori "opini", sedangkan tugas yang diberikan adalah "esai" maka saya memutuskan untuk membuat tugas yang baru dan membagikan hasil pikiran saya disini. Semoga bermanfaat. 




Kontroversi mengenai LGBT yang ada di Indonesia mulai kembali memanas sejak Amerika menyatakan untuk melegalkan pernikahan sesama jenis pada tanggal 26 Juni 2016. Banyak orang yang berpendapat bahwa Amerika adalah negara besar sehingga tidak menutup kemungkinan untuk negara-negara lainnya, bahkan hingga Indonesia, untuk melegalkan juga pernikahan dari pasangan sesama jenis ini. Sebelum Amerika melegalkan pernikahan sesama jenis tersebut, sudah ada setidaknya 19 negara lain yang melegalkannya, seperti Belanda, Perancis, dan Inggris.

Dalam tulisan ini, penulis khususnya akan membahas lebih lanjut lagi mengenai kontroversi mengenai pasangan gay yang ada di Indonesia. Mengapa lesbian, biseksual, ataupun transgender tidak dibahas juga? Menurut penulis, pasangan gay merupakan salah satu isu yang paling terkenal dibandingkan dengan yang lain dan juga banyak media hiburan mengenai pasangan gay yang beredar di Indonesia. Selain itu, banyaknya gosip-gosip mengenai artis laki-laki tanah air yang ternyata memiliki orientasi menyukai sesama jenis juga menambah perbincangan mengenai kontroversi gay yang ada di Indonesia. Di balik itu, banyak film-film mengenai gay dari luar negeri yang masuk ke Indonesia dan menjadi konsumsi publik. Banyak juga orang Indonesia yang gemar untuk menulis maupun membaca cerita dengan tema homoseksualitas. Jumlah media hiburan yang mengangkat tema gay sendiri lebih banyak daripada tema lesbian, biseksual, maupun transgender.


Gay sendiri merupakan istilah yang umumnya digunakan untuk merujuk kepada pria yang menyukai sesama pria juga. Hal ini juga disebut sebagai homoseksualitas, yang berarti rasa ketertarikan terhadap sesama jenis. Kebalikan dari kata homoseksualitas ini adalah heteroseksualitas yang berarti orang yang mencintai atau memiliki rasa tertarik kepada lawan jenis. Masalah yang ada sekarang ialah banyak orang, terutama mereka yang mendeklarasikan diri sebagai heteroseksual, menganggap bahwa homoseksualitas adalah sebuah penyakit dan/atau dosa yang benar benar dilarang oleh agama sehingga banyak didiskriminasikan di Indonesia.

Menteri Kabinet Kerja, baik pria maupun wanita, berlomba membuat pernyataan bahwa LGBT itu penyakit yang harus disembuhkan. Menjadi seorang gay bukanlah berarti terkena penyakit menular. Dapat dianalogikan dengan contoh bahwa seorang heteroseksual ataupun orang yang mencintai lawan jenis saja kondisi heteroseksual mereka tidak menular kepada orang lain karena orang homoseksual tetap menjadi seorang homoseksual. Bahkan, Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) dan WHO sudah menetapkan bahwa gay bukan penyakit! APA sudah menghapus homoseksualitas dari daftar penyakit jiwa sejak akhir tahun 1970-an. WHO (Badan Kesehatan Dunia) pada 17 Mei 1990 secara resmi juga telah menyatakan bahwa homoseksual bukan penyakit atau gangguan kejiwaan. Depkes RI sudah meratifikasi ketetapan WHO ini dan mencantumkannya dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983 (PPDGJ II) dan PPDGJ III (1993). Penulis sendiri mempunyai teman yang telah menyatakan diri bahwa ia adalah gay dan tidak ada orang yang telah “tertular” menjadi gay juga setelah berteman dengan orang yang mengakui diri sebagai gay tersebut.

Membicarakan gay berdasarkan pada agama memang merupakan suatu yang riskan. Di semua kitab suci berbagai agama yang ada di Indonesia sudah jelas menerangkan bahwa homoseksualitas adalah sesuatu yang melanggar norma agama dan berupa dosa karena pada awalnya Tuhan telah menciptakan laki-laki berpasangan dengan wanita. Namun, yang ingin penulis tegaskan disini ialah terlahir sebagai gay juga bukan merupakan pilihan orang. Dasarnya ialah apabila gay dianggap sebagai dosa maka anggapannya menjadi dosa yang juga setara seperti berbohong, mencuri, hingga membunuh sendiri. Anggapan bahwa gay adalah dosa besar dan berbohong hanyalah dosa kecil inilah yang sangat tidak disetujui oleh penulis karena pada dasarnya semua dosa adalah sama, tidak ada dosa kecil maupun dosa berat. Banyak pemuka agama maupun orang-orang fanatik yang ada di Indonesia beranggapan orang yang gay ataupun orang yang mendukung kaum gay adalah hina dan pantas untuk dijauhi. Sebagai contoh, Sherina Munaf, seorang penyanyi terkenal di Indonesia, mengeluarkan pendapatnya yang setuju dengan perkawinan sesama jenis yang dilegalkan di Amerika dan berharap di seluruh dunia pun perkawinan sesama jenis akan dilegalkan. Pada akhirnya, banyak penggemar Sherina yang merasa kecewa dan langsung membenci Sherina atas pernyataanya tersebut. Mereka menganggap bahwa Sherina adalah seseorang yang sangat berdosa dan harus bertobat. Mirisnya lagi, sampai ada petisi yang dibuat untuk memboikot dan menuntut Sherina untuk meminta maaf, padahal petisi itu pasti dibuat oleh orang mempunyai dosa juga.

Terakhir, banyak orang yang memutuskan untuk menyatakan dirinya gay di Indonesia dan akhirnya mendapat celaan dan diskriminasi dari lingkungan sekitarnya. Masih sangat banyak orang, mulai dari warga negara biasa hingga ke pemerintah, yang menganggap bahwa orang gay ataupun orang yang mendukung gay adalah orang yang menyimpang dan berbahaya. Banyak penjabat pemerintahan yang menganggap bahwa dengan adanya promosi mengenai kaum LGBT, khususnya gay, di Indonesia akan membuat banyak generasi muda ikut-ikutan menjadi gay juga. Padahal, tujuan mereka yang melakukan kampanye hanyalah agar orang-orang homoseksualitas tidak perlu terus bersembunyi dan takut untuk menyatakan dirinya gay serta agar perkawinan sesama jenis dapat dilegalkan di Indonesia. Mereka yang melakukan kampanye tidak mengindikasikan sama sekali agar warga negara Indonesia harus menjadi gay juga. Banyak orang yang telah mengaku bahwa dirinya gay dan akhirnya dijauhi oleh sekitarnya. Mereka bahkan tidak mendapat hak-hak sebagai warga negara, mulai dari bullying yang bersifat kekerasan, tidak adanya hak untuk mendapatkan pekerjaan, hingga pada akhirnya lebih memilih untuk mengakhiri hidup karena tidak kuat menerima pandangan meremehkan dan jijik dari lingkungan sekitar.

Untuk mengakhiri tulisan ini, penulis hanya ingin mengajak para pembaca untuk dapat bersikap lebih kooperatif kepada orang yang telah memutuskan untuk menyatakan dirinya memiliki orientasi seksual sesama jenis. Pengalaman pribadi penulis, seperti berteman dengan orang yang mengaku dirinya sebagai homoseksual, juga tidak membawa efek atau dampak buruk karena pada dasarnya pun mereka tetaplah orang normal yang makan, tidur, dan hidup selayaknya orang heteroseksual. Penulis tidak mengajak pembaca untuk mendukung ataupun membenci orang yang mengaku sebagai homoseksualitas. Penulis hanya mengajak pembaca untuk menghargai orang lain apapun orientasi seksualnya karena cinta ataupun ketertarikan pada orang lain dasarnya adalah cinta tidak peduli kepada siapa orang yang dicintainya.

Kamis, 05 Juni 2014

REVIEW INCOGNITO


Haiii ini pertama kalinya nulis review lagi setelah terakhir cek blog itu 2 tahun lalu *hening*

Kali ini saya mau coba nulis review novel incognito sekalian ikut give away yang dibuat Ka Windhy di twitter hehehe... Sekedar pemberitahuan review novel ini sudah beberapa kali direvisi karena kesalahan prbadi saya jadi apabila ada yang sedikit membingungkan mohon dimaafkan :)


"Sisca dan Erik tidak pernah menyangka, perjalanan waktu yang selama ini hanya bisa mereka baca di buku akhirnya mereka alami sendiri!
Semua bermula ketika ia dan Erik harus mengambil foto di kawasan Kota Lama Semarang untuk tugas sekolah. Seorang anak bernama Carl tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan mengaku berasal dari masa lalu.

Sisca dan Erik mendadak terseret petualangan bersama Carl, pergi ke tempat-tempat asing, bertemu dengan tokoh-tokoh sejarah yang selama ini cuma mereka temui dalam buku. Petualangan yang membuat mereka belajar banyak: menghargai waktu, persahabatan, dan diri mereka sendiri......."

Incognito

        Old Cover                    New Cover

       Pertama kali saya melihat novel Incognito itu sekitar 5 tahun yang lalu. Sejujurnya, sampai detik saya menulis review ini saya baru mengetahui dari mbah gugel translet bahwa arti incognito itu sendiri adalah yang menyamar. Pertamanya saya tidak mengerti arti dari kata ‘incognito’ itu sendiri, menurut saya incognito itu sendiri hanya merupakan kata yang cukup unik *peace* *jujur* HEHEHE. Saya adalah tipe orang yang membeli novel berdasarkan nama penulisnya, jika saya merasa tertarik dengan novel seorang penulis maka saya pasti akan membeli karya-karya selanjutnya. Berhubung Windhy Puspitadewi merupakan penulis favorit saya setelah membaca “sHe” dan “Let Go” tanpa pikir panjang lagi saya pun langsung membeli novel berjudul unik tersebut.
        Pada akhirnya saya tidak menyesal sama sekaliii membeli novel Incognito. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan Sisca, Erik, dan Carl yang mendadak berpetualang ke masa lalu dengan mesin waktu berbentuk jam kepunyaan Carl.  Latar belakang kisah ini dimulai dari kota Semarang dimana merupakan tempat tinggal Erik dan Sisca, lalu mereka pun bertemu dengan Carl di salah satu tempat wisata di kota tersebut. Menurut saya, jarang sekali novel yang berlatar belakang kota Semarang apalagi lengkap dengan tempat wisatanya sehingga itu membuat saya tertarik untuk membaca buku ini sampai selesai. Dari cerita ini juga saya dapat mengetahui berbagai macam kisah tokoh-tokoh penting yang pernah ada di dunia, seperti Charles Darwin, Archimedes hingga Mushasi. Membaca buku ini benar-benar membuat saya yang notabene tidak terlalu suka sejarah mendadak sempat tertarik mengikuti kisah Mushahi hihihi. Selain bertemu dengan tokoh-tokoh besar tersebut, mereka juga bertemu dengan orangtua salah satu dari mereka. Masalahnya mulai muncul di saat mereka nyaris saja mengacaukan hubungan orangtua salah satu dari mereka sehingga mereka nyaris mengubah sejarah. Untuk memperbaiki masalah tersebut, mereka harus berpacu dengan waktu yang semakin menipis. Dibagian ini saya merasakan adrenalin saya ikut meningkat bersamaan dengan konflik yang ada dan cara mereka menyelesaikannya. Menurut saya, Ka Windhy berhasil membuat pembacanya merasakan apa yang tokoh-tokoh novelnya rasakan.
         
        Selain latar ceritanya yang tidak membosankan, disini pun saya kembali menemukan ciri khas tokoh laki-laki kepunyaan Ka Windhy yaitu tegas, cool, dan perhatian dalam diri seorang Erik yang berhasil membuat saya histeris sendiri karena mendadak mengidolakannya. Tokoh Sisca yang benar-benar mencirikan seorang remaja juga sukses membuat diri saya membayangkan bahwa Sisca itu ialah saya sendiri hehehehe.
          
      Akhir dari kisah petualangan mereka bertiga sendiri menurut saya adalah sebuah hal yang tidak terlalu tertebak karena berkaitan dengan masa lalu Erik dan Carl itu sendiri. Sayangnya, kisah romantis yang Ka Windhy selipkan di akhir cerita tidak terlalu mengejutkan saya, karena terkesan sedikit datar dan biasa.
          
        Namun, tetap ada satu poin yang membuat saya berpikir keras saat membaca novel ini. Didalam novel Incognito diceritakan bahwa, Sisca dan erik mempunyai sebuah novel favorit yang mempunyai tema perjalanan waktu. Sebelum memulai petualangan itu, mereka juga telah membahas mengenai novel tersebut. Dalam perjalanan itu disebutkan juga bahwa Sisca selalu membawa novel tersebut namun, kenapa mereka gak kepikiran sama sekali dengan novel itu saat menjalani petualangan perjalanan waktu tersebut. Padahal kalau novel itu benar-benar merupakan favorit mereka, semestinya mereka bisa mengingat novel tersebut atau merasakah “deja vu” bukan? hehehehe
          
      Yaaah, saya tahu seharusnya saya berkomentar tentang cara penulisan atau semacamnya tapi karena saya hanya menikmati sebuah novel berdasarkan cerita maka itu tidak menjadi sebuah masalah berarti buat saya. Komentar-komentar di atas mengenai novel perjalanan waktu favorit Sisca dan Erik juga bukan merupakan kekecewaan saya terhadap Incognito ini, hanya sebuah rasa penasaran hehehehe.
          
          Pada akhirnya saya memberi 4,5 bintang di novel ini karena akhir dari kisah mereka yang seperti antiklimaks –setelah tidak tertebak menjadi tertebak- dan rasa penasaran saya di atas tadi. Selain itu novel ini benar-benar novel yang direkomendasikan untuk dibaca bagi semua umur karena novel ini merupakan salah satu bacaan yang bermutu, bermanfaat, dan saya juga belajar bahwa kita harus mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya karena kita tidak akan  tahu apa yang terjadi di masa depan nanti. ^^